BIJAN

TABUNG PRIHATIN

"TABUNG PRIHATIN" PAS KAWASAN BUKIT GANTANG;;DERMA BAGI MEMBANTU ANAK YATIM/FAKIR MISKIN/OKU DAN YANG MEMERLUKAN...PADA YANG BERHAJAT SALURKAN SUMBANGAN ANDA MELALUI AKAUN "MAYBANK:NO AKAUN:"558051304442"..MAKLUMKAN SUMBANGAN ANDA KETALIAN:012-4282010/019-5205025/019-5789690.TQ
Showing posts with label ilmu. Show all posts
Showing posts with label ilmu. Show all posts

Monday, February 1, 2010

JOM KITA BERPAKAT-PAKAT G MENOREH...

LEPAS ini risda akan dikawal oleh org kuat kuat BN pulak.....untung banyak.banyak...takkan nak lepas gitu aje...
Getah skrap mampu cecah RM10 sekilo
Pihak Berkuasa Kemajuan Pekebun Kecil Perusahaan Getah (Risda) memperuntukkan RM300 juta untuk penanaman semula getah membabitkan kawasan seluas kira-kira 30,000 hektar di seluruh negara tahun ini.
Timbalan Ketua Pengarahnya Datuk Wan Mohamad Zuki Mohamad berkata peruntukan itu merangkumi pelbagai bantuan untuk pekebun kecil menjalankan penanaman semula termasuk baja dan anak pokok getah.

Di Kelantan sahaja Risda memperuntukkan sejumlah RM45 juta bagi penanaman semula getah melibatkan kawasan seluas kira-kira 3,300, katanya kepada pemberita Pasir Mas, malam tadi.

Terdahulu, beliau merasmikan majlis penyerahan van jenazah sumbangan anak syarikat Risda iaitu Risda Fleet Sdn Bhd di Masjid Mukim Makmur, Lati di sini.

Wan Mohamad Zuki berkata harga getah skrap kini ialah antara RM4 hingga RM5 sekilogram dan mampu mencecah RM10 sekilogram mengikut kualiti tertentu.

"Kita menjangkakan harga getah akan terus kukuh memandangkan permintaan untuk bahan mentah itu semakin meningkat," katanya.

Tuesday, January 19, 2010

Ingat Mati..semua akan Mati Termasuk MB HARAM....

Pesan roh kepada manusia hidup

APABILA roh keluar daripada jasad, ia akan berkata-kata dan seluruh isi alam sama ada di langit atau bumi akan mendengarnya, kecuali jin dan manusia. Apabila mayat dimandikan, lalu roh berkata:
"Wahai orang yang memandikan, aku minta kepadamu kerana Allah untuk melepaskan pakaianku dengan perlahan-lahan, sebab pada saat ini aku beristirahat daripada seretan malaikat maut". Selepas itu, mayat pula bersuara sambil merayu: "Wahai orang yang memandikan, janganlah engkau menuangkan airmu dalam keadaan panas. Begitu juga jangan menuangnya dengan air yang dingin kerana tubuhku terbakar apabila terlepasnya roh daripada tubuh".

Apabila dimandikan, roh sekali lagi merayu: "Demi Allah, wahai orang yang memandikan jangan engkau menggosok aku dengan kuat sebab tubuhku luka-luka dengan keluarnya roh". Selepas dimandi dan dikafankan, telapak kaki mayat diikat dan ia pun memanggil-manggil dan berpesan lagi supaya jangan diikat terlalu kuat serta mengkafan kepalanya kerana ingin melihat wajahnya sendiri, anak-anak, isteri atau suami buat kali terakhir kerana tidak dapat melihat lagi sampai hari kiamat.

Sebaik keluar dari rumah lalu ia berpesan: "Demi Allah, wahai jemaahku, aku telah meninggalkan isteriku menjadi balu. Maka janganlah kamu menyakitinya. Anak-anakku menjadi yatim dan janganlah kalian menyakiti mereka.

“Sesungguhnya pada hari ini aku telah keluar dari rumahku dan aku tidak akan dapat kembali kepada mereka buat selama-lamanya.” Sesudah mayat diletakkan pada pengusung, sekali lagi diserunya kepada jemaah supaya jangan mempercepatkan mayatnya ke kubur selagi belum mendengar suara anak-anak dan sanak saudara buat kali terakhir.

Sesudah dibawa dan melangkah sebanyak tiga langkah dari rumah, roh pula berpesan: "Wahai Kekasihku, wahai saudaraku dan wahai anak-anakku, jangan kamu diperdaya dunia sebagaimana ia memperdayakan aku dan janganlah kamu lalai ketika ini sebagaimana ia melalaikanaku.

"Sesungguhnya aku tinggalkan apa yang aku telah aku kumpulkan untuk warisku dan sedikitpun mereka tidak mahu menanggung kesalahanku. Adapun di dunia, Allah menghisab aku, padahal kamu berasa senang dengan keduniaan. Dan mereka juga tidak mahu mendoakan aku."

Sunday, December 20, 2009

Zaman Keemasan Yahudi Di Tanah Baghdad




Di makam Ezekiel di kota Kifl, sebelah selatan Baghdad, terdapat tulisan Ibrani dengan kata Allah dibawahnya (SuaraMedia News)
Di makam Ezekiel di kota Kifl, sebelah selatan Baghdad, terdapat tulisan Ibrani dengan kata Allah dibawahnya IRAK (SuaraMedia) – Hampir setiap orang yang bisa membaca ayat-ayat dalam bahasa Ibrani yang terukir di dinding-dinding makam Ezekiel, telah meninggalkan negara Irak sejak 60 tahun yang lalu, namun kenangan mereka masih tersimpan rapi hingga saat ini di sebuah tempat suci Muslim.

Antara tahun 1948 dan 1951, hampir seluruh anggota komunitas Yahudi Irak yang berusia 2.500 tahun pergi meninggalkan negara tersebut, namun hingga saat ini, umat Muslim dan Kristen Irak masih sering mengunjungi tempat-tempat suci tersebut.

Di kota kecil Kifl, yang terletak di sebelah selatan Baghdad, tempat suci Ezekiel – nabi yang memimpin bangsa Yahudi di lokasi pembuangan Babilonia pada abad keenam Masehi – telah menjadi bagian dari rangkaian situs religius kuno Irak.

Sebuah menara miring yang terbuat dari batu bata berdiri menjulang diluar pintu masuk tempat suci tersebut, namun bentuk interior masjid tersebut lebih mirip sebuah sinagog, dilengkapi dengan lemari-lemari kayu kuno yang dipergunakan untuk menyimpan gulungan-gulungan Torah dan susuran tangga yang dulu dipakai untuk memisahkan pria dan wanita.

Di bagian dalam, tertulis naskah dalam bahasa Ibrani yang tertulis di tembok-tembok batu dibawah kubah bergaya Turki yang dihiasi oleh ukiran bunga dari abad pertengahan Islam.

Pemerintah Irak telah memulai proyek renovasi interior bangunan bersejarah itu, dan kementerian pariwisata dan benda bersejarah mengatakan bahwa pihaknya berharap untuk dapat segera memperbaiki dan merenovasi situs-situs Yahudi lainnya di seluruh penjuru negara tersebut.

"Pihak kementerian mengkhawatirkan semua bangunan warisan budaya di Irak, tidak peduli apakah itu bangunan Kristen, Yahudi atau dari agama lainnya," kata juru bicara kementerian Abdelzahra al-Talaqani.

Di makam Ezekiel di kota Kifl, sebelah selatan Baghdad, terdapat tulisan Ibrani dengan kata Allah dibawahnya (SuaraMedia News)
Di makam Ezekiel di kota Kifl, sebelah selatan Baghdad, terdapat tulisan Ibrani dengan kata Allah dibawahnya (SuaraMedia News)

"Dalam rencana-rencana perbaikan terkini, tidak dimasukkan perbaikan sejumlah sinagog di Baghdad, Basra, Mosul, Fallujah dan tempat-tempat lainnya karena kurangnya pendanaan, namun saya rasa bangunan-bangunan tersebut akan dimasukkan dalam rencana kementerian di masa mendatang."

Falah Abdelhadi, yang mengawasi proses renovasi tempat suci Ezekiel, berharap agar tempat tersebut dapat sekali lagi menarik pengunjung dari berbagai keyakinan yang berasal dari seluruh dunia.

"Tidak pernah ada konflik antar agama di Babilonia," katanya, sambil menunjuk reruntuhan kota kuno tersebut yang terletak beberapa kilometer dari tempatnya berdiri. "Semua orang menyukai kaum Yahudi Irak, meskipun Yahudi, namun mereka tetap orang Irak."

Umat Muslim mengenali hampir seluruh tokoh keagamaan dari keyakinan Yahudi dan Nasrani, termasuk Ezekiel. Dia dipanggil dengan sebutan Dhu al-Kifl dalam dua ayat al-Qur'an dan disebutkan pula bahwa dia mampu membangkitkan orang yang sudah mati.

Para peziarah Islam, Kristen, dan Yahudi di Timur Tengah selama berabad-abad telah menempuh perjalanan jauh untuk saling berkunjung ke tempat suci agama masing-masing dengan tujuan mendoakan kesehatan, kemakmuran dan kesuburan.

Di kota Al-Azair, Bashir Zaalan, seorang Muslim Syiah, merawat kuil Ezra, sosok yang disebut-sebut memimpin beratus-ratus orang Israel kembali ke Yerusalem pada abad ke-5 Masehi.

"Kami tidak pernah membeda-bedakan nabi, termasuk dari agama Kristen atau dari bangsa

Di makam Ezekiel di kota Kifl, sebelah selatan Baghdad, terdapat tulisan Ibrani dengan kata Allah dibawahnya (SuaraMedia News)
Di makam Ezekiel di kota Kifl, sebelah selatan Baghdad, terdapat tulisan Ibrani dengan kata Allah dibawahnya (SuaraMedia News)
Israel," katanya. "Nabi Ezra adalah putra Israel namun kaum Muslim juga mengunjungi kuilnya sebagaimana tempat suci lain."

Di kota Kirkuk yang terletak di bagian utara Irak, kaum Yahudi dulunya biasa menaiki benteng berusia 4.600 tahun untuk mencari berkah di sebuah makam (yang diragukan kebenarannya) dari nabi Daniel, yang sekarang menjadi tempat suci Muslim dan dipasangi bendera-bendera berwarna hijau.

"Kaum Muslim, Kristen dan Yahudi dulunya sering berkunjung di sini. Mereka selalu datang pada hari Sabtu, bahkan orang-orang Muslim juga datang pada hari Sabtu, karena disini merupakan tempat suci nabi-nabi Yahudi," kata Ayad Tariq Hussein, seorang Muslim Turki yang menjabat sebagai direktur benda-benda antik.

"Semua orang hidup bersama dengan rukun. Kami merindukan mereka saat mereka pergi," kata Ghazi Mohammed Salih, seorang apoteker berusia 66 tahun yang keluarganya memegang kunci benteng Kirkuk selama lebih dari 1.400 tahun.

"Ayah saya dulu biasa membicarakan tentang mukhtar (pemimpin komunitas) Yahudi, Shlomi, yang sering datang bersama orang-orang Yahudi setiap hari Sabtu untuk memberikan sumbangan ke tempat suci tersebut," katanya. "Kami semua bersahabat, bahkan akrab seperti saudara kandung."

"New York seringkali disebut sebagai kota Yahudi. Saya rasa pada awal abad ke-20, Baghdad juga bisa dikatakan sebagai sebuah kota Yahudi," tulis Nissim Rejwan, seorang Yahudi berdarah Irak yang meninggalkan negara tersebut pada tahun 1948 saat berusia 26 tahun.

Dalam tulisannya, Rejwan yang kini tinggal di Yerusalem, menjelaskan bagaimana pasar-pasar di Baghdad ditutup pada hari Sabtu, hari istirahat kaum Yahudi.

"Perbedaan antara dunia dimana saya dulu dilahirkan, di Baghdad pada tahun 1920an dengan dunia dimana saya menghabiskan masa remaja saya pada akhir tahun 1940an dengan dunia yang kita tinggali sekarang sangatlah besar," tulisnya.

Sebelum Yahudi berbondong-bondong meninggalkan Irak pada tahun 1948, sepertiga dari penduduk keseluruhan kota Baghdad merupakan Yahudi, mereka juga berperan besar dalam bidang politik, ekonomi, dan budaya di Irak. Kini, populasi Yahudi di Baghdad berkurang drastis.

Masalah yang dihadapi Yahudi bermula pada awal 1930an, dengan berkembangnya radikalisasi nasionalisme Arab dan masuknya rombongan Yahudi Zionis. Tokoh-tokoh Yahudi memobilisasi para pemuda dan mendorong mereka untuk pindah ke Palestina.

Proses tersebut mencapai puncaknya dengan lahirnya negara Israel pada tahun 1948, disusul perang Arab-Israel dan Operasi Ezra dan Nehemia, yang menyedot sekitar 120.000 orang Yahudi – 96 persen dari keseluruhan Yahudi Irak – ke Israel pada tahun 1951.

"Jika anda bertanya pada komunitas Yahudi pada tahun 1948, berapa banyak orang yang ingin pindah ke Israel, saya rasa sekitar 20 hingga 30.000 orang Yahudi akan mengatakan ya," kata Moshe Gat, seorang profesor sejarah kelahiran Irak yang kini tinggal di Tel Aviv.

"Namun karena perang di Palestina, penganiayaan di Irak, dan kegiatan dari perwakilan Israel, orang-orang Yahudi meninggalkan negara Irak. Anda tidak bisa mengatakan bahwa penyebabnya hanya satu."

Dalam kekerasan yang pecah ketika terjadi invasi pimpinan AS pada tahun 2003 lalu, kaum Yahudi Irak bersembunyi dan menyamar menjadi kelompok bersenjata yang terdapat di seluruh penjuru negara, membantai umat Muslim, Kristen dan kaum minoritas lainnya.

Setelah pertumpahan darah banyak berkurang dalam dua tahun terakhir, pemerintah Irak mulai memperhatikan banyaknya warisan budaya di negara tersebut yang berpotensi untuk memancing wisatawan agar berkunjung ke Irak.

Hanya sedikit orang di Irak yang masih mengingat kehidupan komunitas Yahudi, dan juga mengenai beratnya konflik Timur Tengah bagi populasi warga Arab.

Namun para penganut tiga agama mungkin saja segera mengunjungi tempat suci Kifl, dimana didekatnya, Ezekiel disebut-sebut pernah berjalan melalui lembah tulang-tulang kering dan melihat Tuhan mengangkat kerangka-kerangka tersebut untuk kemudian melapisi mereka dengan daging.

"Irak harus dapat menjadi tujuan wisata. Jika ada pengunjung yang datang atas seijin pemerintah Irak, maka mereka akan diberikan sambutan yang hangat," kata Abdelhadi sambil tersenyum. "Sepanjang mereka hanya datang untuk berwisata." (dn/arby) Dikutip oleh SuaraMedia.com

__._,_.___



__,_._,___
tq:ami......

Friday, December 18, 2009

15 Cara Hukuman Mati Paling Brutal




Kebanyakan orang berharap akan mati dengan cara melewatkannya dalam tidur, dalam damai, atau mungkin dikelilingi oleh orang-orang terkasih. Tetapi bagi para korban eksekusi ini, yang tidak bisa lebih jauh dari kenyataan. Apakah itu dibakar dalam ban atau Anggota badan di potong perlahan-lahan, kematian seperti ini yakin akan membuat Anda merasa ngeri.

15. Dikubur Hidup-hidup

Dikubur hidup-hidup adalah daftar paling atas dalam list berikut. kembali ke SM, hukuman ini telah digunakan untuk perorangan maupun kelompok. Korban biasanya diikat dan kemudian ditempatkan dalam sebuah lubang dan dikubur. Salah satu yang paling terkenal adalah Pembantaian Nanjing selama Perang Dunia II, ketika tentara Jepang mengubur hidup-hidup warga sipil China, tahukah anda berpa orang yang dikubur hidup-hidup ? " Sepuluh ribu orang tewas kehabisan oksigen dalam tanah!)

14. Snake Pit

Salah satu bentuk Penyiksaan dan eksekusi mati tertua, Narapidana dilemparkan ke dalam lubang yang dalam dengan ular berbisa, Beberapa pemimpin terkenal dikatakan mati dengan cara ini, termasuk Ragnar Lodbrok, panglima perang Viking, dan Gunnar Raja Burgundi. Beberapa variasi lubang ular tradisional ini ada yangdilempar ke kolam kecil yang berisi ular berbisa.

13. Cakar Spanyol

Perangkat penyiksaan ini umumnya digunakan di Eropa selama Abad Pertengahan. Digunakan untuk merobek kulit korban, senjata ini bisa robek melalui apa pun, termasuk otot dan tulang. Korban diikat telanjang, kadang-kadang di depan umum, dan kemudian para penyiksa mulai merusak mereka. Biasanya dimulai pada tungkai kaki dan hanya menyisakan leher dan wajah saja.

12. Di iris Pelan-pelan

Ling Chi, diterjemahkan sebagai "lambat mengiris" atau "kematian yang masih tersisa" itu digambarkan sebagai kematian dengan seribu luka. Penyiksaan seperti ini dimulai tahun 900 M sampai tahun 1905, bentuk penyiksaan dan eksekusi yang mirip dengan Lima kepedihan, Penyiksa seperti ini dengan cara perlahan-lahan membuat luka dan menghilangkan beberapa bagian tubuh, memperpanjang hidup korban penyiksaan selama mungkin. Menurut prinsip Konfusian, sisa potongan tubuh yang masih menempel ini kemudian sisakan untuk di siksa di akhirat nanti.

11. Dibakar

Kematian dengan membakar telah digunakan sebagai suatu bentuk hukuman mati selama berabad-abad, sering dikaitkan dengan kejahatan seperti pengkhianatan dan sihir. Sekarang ini dianggap sebagai hukuman yang kejam dan tidak biasa, tetapi sebelum abad ke-18, yang dibakar pada tiang pancang adalah praktik umum. Korban terikat , sering di pusat kota atau di mana pun dengan penonton dan kemudian menyalakan api. Hal ini dianggap sebagai salah satu cara paling lambat untuk mati.

10. Necklacing

Umum dipraktikkan di Afrika Selatan, Necklacing sayangnya masih sangat umum hari ini. Necklacing terdiri dari karet ban, diisi dengan bensin, dipaksa dimasukan di sekitar dada korban dan lengan, dan kemudian dibakar. Necklacing dasarnya menyebabkan tubuh akan berubah menjadi meleleh.

9. Eksekusi oleh Gajah

Asia Selatan dan Asia Tenggara, sang Gajah telah menjadi metode hukuman mati selama ribuan tahun. Hewan dilatih untuk mengeksekusi dua cara. Perlahan-lahan, dalam cara yang berkepanjangan, menyiksa atau menghancurkan, yang menewaskan korban dengan seketika. Biasanya digunakan oleh penguasa, pembunuhan dengan gajah ini berguna untuk mempertinggi rasa takut kepada rakyat jelata, membuktikan bahwa mereka bahkan memiliki kemampuan untuk mengendalikan binatang liar. Konsep ini akhirnya diadopsi doleh militer Romawi untuk menghadapi tentara musuh.

8. Lima Kepedihan

Bentuk hukuman mati asal China adalah konsep yang relatif mudah untuk dipahami. Dimulai dengan hidung korban yang dipotong, lalu satu tangan dan satu kaki, dan akhirnya, korban dikebiri dan pinggang korban ditarik hingga terbelah. Penemu hukuman ini adalah Li Si, seorang Perdana Menteri Cina, akhirnya disiksa dan kemudian dihukum mati dengan cara ini pula.

7. Dasi Kolombia

Metode eksekusi ini adalah salah satu yang paling mengerikan. Tenggorokan korban disayat, sering kali dengan pisau tapi benar-benar disayat oleh benda tajam, dan kemudian lidah mereka ditarik keluar hingga meninggalkan luka yang terbuka. Selama La Violencia, sebuah periode sejarah Kolombia penuh dengan pembunuhan, ini adalah bentuk eksekusi paling umum . Hal ini digunakan terutama untuk mengintimidasi orang lain.

6. Digantung, ditusuk, dan dicincang

Hukuman untuk seorang pengkhianat di Inggris, yang akan digantung, ditarik dan dipotong-potong adalah umum terjadi selama abad pertengahan. Meskipun dihapus pada tahun 1814, bentuk eksekusi ini bertanggung jawab atas ratusan, bahkan mungkin ribuan kematian. Prosesnya adalah sebagai berikut. Pertama, korban diseret pada bingkai kayu, yang disebut rintangan, ke tempat eksekusi. Kedua, korban digantung dengan leher untuk waktu yangh singkat sampai hampir mati. Ketiga, pengebirian terjadi, di mana setelah itu, isi perut dan alat kelamin dibakar di depan korbannya. Akhirnya, tubuh terbagi menjadi empat bagian yang terpisah dan dipenggal kepalanya.

5. Sepatu Semen

Diperkenalkan oleh Mafia Amerika , metode eksekusi ini dengan menempatkan kaki korban dalam blok abu dan kemudian mengisinya dengan semen basah dan kemudian melemparkan nya ke dalam air. Bentuk eksekusi masih dipraktekkan hingga sekarang, dan bahkan menciptakan istilah "seseorang yang tidur dengan ikan-ikan" sebagai eufemisme untuk orang mati.

4. Guillotine

Guillotine adalah salah satu bentuk yang paling eksekusi terkenal . Terdiri dari pisau tajam diikatkan pada tali, kepala korban diletakkan di tengah-tengah bingkai dan kemudian pisau dijatuhkan, menyebabkan orang yang dipenggal mati seketika. Saking cepatnya hingga orang – orang yang terpenggal masih bisa mengedipkan mata dan berkata – kata sesaat setelah kepalanya terlepas, Para ahli berteori bahwa kecepatan pisau telah sedikit berpengaruh pada otak, dan tidak mengakibatkan kehilangan kesadaran. Salah seorang dokter bahkan dilaporkan menyaksikan eksekusi seorang laki-laki, dan ketika ia memanggil nama tahanan itu setelah kepalanya terpisah,ia membuat kontak mata dengan dia, bahkan memusatkan perhatian pada dokter itu. Itu pasti sangat aneh untuk mengetahui bahwa kepala Anda tidak lagi melekat pada tubuh Anda!

3. Republik Perkawinan

Republik Pernikahan mungkin bukan kematian yang paling mengerikan dalam daftar ini, namun jelas salah satu yang paling menarik. Berasal di Perancis, bentuk eksekusi ini biasa terjadi ketika Revolusi Perancis. Dengan mengikat bersama dua orang yang telah ditelanjangi, seorang laki-laki dan perempuan biasanya dari usia yang sama, dan menenggelamkanmerek a. Dalam beberapa kasus, biasanya di mana air tidak tersedia, pasangan akan dieksekusi dengan pedang.

2. Penyaliban

Metode eksekusi yang sangat kuno adalah salah satu metode yang paling terkenal, jelas terutama disebabkan oleh eksekusi Yesus. Penyaliban terdiri dari tangan dan kaki korban yang dipaku ke kayu salib dan kemudian menjadi mengangkat ke udara. Korban kemudian dibiarkan menggantung di sana sampai mati, yang biasanya hingga beberapa hari, dan sering berarti mati kehausan dari pada karena paku salib.

1. The Brazen Bull

The Brazen Bull, dikenal juga dengan Banteng Sisilia adalah salah satu metode penyiksaan dan eksekusi paling kejam di luar sana. Dirancang di Yunani kuno, kuningan padat dilemparkan ke dalam bentuk banteng kosong, dengan pintu di bagian samping yang terbuka dan terkunci. Untuk memulai eksekusi, korban ditempatkan dalam banteng kuningan dan api telah ditetapkan di bawahnya. Api logam dipanaskan sampai benar-benar kuning, menyebabkan korban di kukus sampai mati. Yum. Banteng itu dirancang sedemikian rupa sehingga jeritan para korban akan terdengar sebagai sebuah musik untuk kenikmatan para algojo. Penemu bentuk hukuman ini akhirnya dieksekusi di bagian dalam banteng, yang semuanya terlalu mudah ditebak. Anda hidup dengan tanduk, Anda mati oleh tanduk. Walaupun ini adalah daftar yang sulit untuk menentukan peringkat, saya merasa pantas menempatkan The Brazen Bull di posisi teratas.

__._,_.___
.

__,_._,___
ami..

Saturday, December 12, 2009

Riwayat Kalender Islam....




Sejarah penanggalan islam, Jumlah hari dalam satu bulan dalam kalender hijriah sangat bergantung pada posisi bulan, bumi, dan matahari. (SuaraMedia News)
Sejarah penanggalan islam, Jumlah hari dalam satu bulan dalam kalender hijriah sangat bergantung pada posisi bulan, bumi, dan matahari. (SuaraMedia News)
Jumlah hari dalam satu bulan dalam kalender hijriah bergantung pada posisi bulan, bumi, dan matahari.
Hampir seluruh umat Islam di seluruh dunia mengenal sistem kalender masehi (M). Bahkan, ketika diminta untuk menyebutkan nama-nama bulan masehi, mereka dengan mudah mengucapkannya.

Sebaliknya, ketika dimintai pendapatnya tentang kalender Islam atau hijriyah, kebanyakan mereka akan menggelengkan kepala, tanda tak tahu. Sungguh, itu sangat memprihatinkan sebab mereka tidak mengetahui kalendernya sendiri. Bahkan, mereka tak tahu bulan apa yang pertama dari kalender hijriyah.

''Ini disebabkan minimnya sosialisasi keberadaan kalender hijriyah pada umat Islam,'' jelas dosen Fakultas Syariah IAIN Walisongo, Semarang, Muhammad Izzudin MAg.

Izzuddin menjelaskan, sistem penanggalan Islam dimulai pada saat Rasulullah SAW berhijrah dari Makkah ke Madinah. Perpindahan (hijrahnya) Rasulullah ini, kata dia, menunjukkan adanya tujuan dalam menggapai kedamaian bagi umat Islam. ''Meninggalkan keburukan menuju kebaikan,'' tegasnya.

Seperti diketahui, peristiwa hijrah Rasulullah itu terjadi pada hari Kamis, bertepatan dengan 15 Juli 622 M. Mulai tahun itulah dihitung sebagai tahun hijriyah. Berbeda dengan tahun masehi yang dimulai pada 1 Januari, sistem penanggalan Islam diawali pada 1 Muharram. Dan, dalam setahun, sama-sama berisi 12 bulan.

Kendati penerapan kalender hijriyah merujuk pada tahun hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah, penanggalan tersebut resmi digunakan setelah 17 tahun kemudian saat sistem pemerintahan Islam dipimpin oleh Khalifah Umar bin Khattab.

Penetapan awal tahun hijriyah yang dilakukan Khalifah Umar ini merupakan upaya dalam merasionalisasikan berbagai sistem penanggalan yang digunakan pada masa pemerintahannya. Kadang, sistem penanggalan yang satu tidak sesuai dengan sistem penanggalan yang lain sehingga sering menimbulkan persoalan dalam kehidupan umat.

Bila menilik sejarahnya, sebelum datangnya Islam, bangsa Arab telah menggunakan kalender tersendiri. Mereka belum menetapkan tahun, namun sudah mengenal nama-nama bulan dan hari. Kalaupun harus menggunakan tahun, itu hanya berkaitan dengan peristiwa yang terjadi, seperti Tahun Gajah yang dinisbatkan pada masa penyerbuan Abrahah ketika akan menghancurkan Ka'bah.

Karena kesulitan dalam menetapkan tahun tersebut dan seiring dengan makin banyaknya persoalan yang ada terkait dengan sistem kalender yang baku, Khalifah Umar pun berinisiatif menetapkan awal hijrah sebagai permulaan tahun masehi setelah melakukan musyawarah dengan sejumlah sahabat.

Dari sini, disepakati bahwa tahun hijrahnya Nabi Muhammad SAW beserta para pengikutnya dari Makkah ke Madinah adalah tahun pertama dalam kalender Islam. Sedangkan, nama-nama bulan tetap digunakan sebagaimana sebelumnya, yakni diawali pada bulan Muharram dan diakhiri pada bulan Dzulhijjah.

Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad beserta para pengikutnya dari Makkah ke Madinah yang dipilih sebagai titik awal perhitungan tahun tentunya mempunyai makna yang amat dalam bagi umat Islam.

Peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah, kata Izzudin, merupakan peristiwa besar dalam sejarah awal perkembangan Islam. Peristiwa hijrah adalah pengorbanan besar pertama yang dilakukan nabi dan umatnya untuk keyakinan Islam, terutama dalam masa awal perkembangannya. Peristiwa hijrah ini juga melatarbelakangi pendirian kota Muslim pertama.

Tahun baru dalam Islam mengingatkan umat Islam pada kemenangan atau kejayaan Islam serta pengorbanan dan perjuangan tanpa akhir di dunia ini.

Rotasi bulan
Bila tahun masehi terdapat sekitar 365-366 hari dalam setahun, tahun hijriyah hanya berjumlah sekitar 354-355 hari. Menurut Izzudin, perbedaan ini disebabkan adanya konsistensi penghitungan hari dalam kalender hijriyah.

''Rata-rata, jumlah hari dalam tahun hijriyah antara 29-30 hari. Sedangkan, tahun masehi berjumlah 28-31 hari. Inilah yang membedakan jumlah hari antara tahun masehi dan tahun hijriyah,'' jelas anggota Badan Hisab dan Rukyah PWNU Jawa Tengah ini.

Pada sistem kalender hijriyah, sebuah hari atau tanggal dimulai ketika terbenamnya matahari di tempat tersebut. Kalender hijriyah dibangun berdasarkan rata-rata silkus sinodik bulan yang memiliki 12 bulan dalam setahun. Dengan menggunakan siklus sinodik bulan, bilangan hari dalam satu tahunnya adalah (12 x 29,53059 hari = 354,36708 hari). Hal inilah yang menjelaskan hitungan satu tahun kalender hijriyah lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan penghitungan satu tahun dalam kalender masehi.

Faktanya, siklus sinodik bulan bervariasi. Jumlah hari dalam satu bulan dalam kalender hijriyah bergantung pada posisi bulan, bumi, dan matahari. Usia bulan yang mencapai 30 hari bersesuaian dengan terjadinya bulan baru (new moon) di titik apooge, yaitu jarak terjauh antara bulan dan bumi; kemudian pada saat yang bersamaan, bumi berada pada jarak terdekatnya dengan matahari (perihelion) .

Sementara itu, satu bulan yang berlangsung 29 hari bertepatan dengan saat terjadinya bulan baru di perige (jarak terdekat bulan dengan bumi) dan bumi berada di titik terjauhnya dari matahari (aphelion). Dari sini, terlihat bahwa usia bulan tidak tetap, melainkan berubah-ubah (antara 29 hingga 30 hari) sesuai dengan kedudukan ketiga benda langit tersebut (bulan, bumi, dan matahari).

Penentuan awal bulan ditandai dengan munculnya penampakan bulan sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru (konjungsi atau ijtimak). Pada fase ini, bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya matahari sehingga posisi hilal berada di ufuk barat.

Jika hilal tidak dapat terlihat pada hari ke-29, jumlah hari pada bulan tersebut dibulatkan menjadi 30 hari. Tidak ada aturan khusus bulan-bulan mana saja yang memiliki 29 hari dan mana yang memiliki 30 hari. Semuanya tergantung pada penampakan hilal. sya/dia/berbagai sumber


Percampuran Islam-Jawa dalam Penanggalan Hijriyah

Kedatangan agama Islam di tanah Jawa membawa bermacam-macam produk budaya dari pusat penyebaran Islam. Di antara produk budaya yang dibawa Islam ketika itu adalah sistem penanggalan berdasarkan revolusi bulan terhadap bumi (qomariah), yang dikenal dengan penanggalan hijriyah. Sesungguhnya, masyarakat Jawa sendiri sudah punya sistem penanggalan yang mapan, yaitu penanggalan saka.

Ada beberapa perbedaan antara kalender saka dengan kalender hijriyah, seperti perbedaan nama-nama bulan dan penetapan permulaan hari. Namun kemudian, terjadi percampuran kedua kalender--kalender Jawa-Islam-- yang masih digunakan hingga saat ini. Percampuran ini memunculkan sejumlah pertanyaan. Apakah telah terjadi Jawanisasi Islam atau Islamisasi Jawa?

Lalu, jika memang telah terjadi percampuran, bagaimana proses itu berjalan sehingga tidak menimbulkan penolakan terhadap ajaran Islam yang ketika itu masih relatif baru? Tema perbincangan seputar percampuran Jawa-Islam ini sangat menarik. Karena, di satu sisi, itu menunjukkan sikap terbuka masyarakat Jawa. Di sisi lain, hal itu membuktikan Islam sebagai agama rahmatan li al-alamin (rahmat bagi seluruh alam).

Menurut sejarah, munculnya kalender Jawa-Islam tidak lepas dari peran Sultan Agung (1613-1645), sultan Mataram Islam ketiga yang bergelar Senapati Ing Alaga Sayiddin Panatagama Kalifatullah. Beliau mengakulturasikan (menggabungkan) penanggalan Jawa (saka) yang berdasarkan sistem kalender matahari dan bulan (kalender lunisolar) dengan penanggalan hijriyah. Menurut Prof Dr MC Ricklefs, dalam artikelnya "Pengaruh Islam terhadap Budaya Jawa Terutama pada Abad ke XIX", upaya percampuran itu terjadi pada tahun 1633 M.

Ricklefs mengisahkan, pada tahun 1633 M, Sultan Agung berziarah ke pesarean (kuburan) Sunan Bayat di Tembayat. Disebutkan dalam Babad Nitik, Sultan Agung diterima oleh arwah Sunan Bayat. Sultan Agung yang masih berada di pesarean Tembayat diperintahkan untuk mengganti kalender Jawa. Sebelum itu, kalender saka (yang berasal dari kebudayaan Hindu) adalah kalender yang masih dipakai dalam lingkungan keraton. Kemudian, kalender itu diganti dengan kalender qamariah yang berisi bulan-bulan Islam. Maka, terciptalah kalender baru yang unik, yaitu kalender Jawa-Islam.

Bulan-bulan dalam kalender Jawa-Islam adalah Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadilawal, Jumadilakir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Sela, dan Besar. Ada bulan yang masih menggunakan istilah Arab, yaitu Jumadilawal dan Jumadilakir. Warna Jawa pada kalender Jawa-Islam lebih kentara pada lima hari pasar atau Pancawara (Pahing, Pon, Wage, Kliwon, dan Legi).

Menurut Dr Purwadi, peneliti budaya Jawa asal Yogyakarta, lima hari pasar sangat penting bagi aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat Jawa, terutama bagi mereka yang hidup di pedesaan atau yang masih memegang kepercayaan tradisional. ''Coba, kita lihat bagaimana masyarakat Jawa mendasarkan aktivitasnya pada lima hari pasar itu. Kalau mau bepergian, mereka terlebih dahulu menghitung hari baik, apakah Pon, Wage, Kliwon, atau hari lainnya,'' ungkapnya

Menurut Purwadi, dari kalangan umat Islam sendiri, umat nahdliyin adalah umat yang masih kuat menggunakan penanggalan Jawa-Islam. ''Pada papan pengumuman di masjid-masjid NU, biasanya terdapat jadwal khatib Jumat berdasarkan hari-hari pasaran. Misalnya, pada Jumat Pon yang khatib adalah kiai A, Jumat Wage kiai B, Jumat Kliwon kiai C dan seterusnya,'' lanjutnya.

Lima hari pasar, jelasnya, juga sangat penting dalam kegiatan perekonomian masyarakat Jawa sehingga seseorang akan melakukan aktivitas ekonomi pada hari tertentu dan tidak melakukannya pada hari lain. Hal itu tercermin pada nama-nama pasar di daerah-daerah Jawa. Ada Pasar Legi, Pasar Kliwon, dan Pasar Wage. Ini berbeda dengan masyarakat Melayu yang menamakan pasar dengan nama-nama hari biasa, seperti Pasar Jumat, Pasar Rabu, atau Pasar Minggu.

Menurut Purwadi, sistem penanggalan Jawa-Islam akan tetap dipakai oleh umat Islam Jawa karena di dalamnya terdapat kepercayaan- kepercayaan mistis. Teknologi informasi saat ini malah semakin menguatkan fungsi klasifikasi Pancawara itu. Contohnya, iklan yang ditayangkan di televisi lebih banyak iklan tentang kepercayaan Jawa, seperti Primbon, Ramal, Manjur, dan lainnya.

Fenomena ini diakui Purwadi sebagai desakralisasi sistem Pancawara. Di sisi lain, itu menunjukkan kepercayaan masyarakat pada hal-hal mistis tetap kuat.


Sistem Penanggalan yang Digunakan di Dunia

Masyarakat dunia mengenal beberapa macam sistem penanggalan dan kalender. Sedikitnya, ada empat sistem penanggalan, yaitu kalender hijriyah, masehi, saka, dan Cina. Masing-masing kalender tersebut dibangun dengan menggunakan mekanisme penghitungan yang berbeda satu sama lain.

Kalender hijriyah atau kalender Islam, misalnya, menggunakan sistem kalender lunar (qomariyah) yang mengacu kepada siklus perputaran bulan. Kalender masehi menggunakan basis penghitungan kalender solar (syamsiyah) yang mengacu kepada siklus peredaran matahari.

Sementara itu, kalender saka dan kalender Cina menggunakan sistem penanggalan syamsiyah dan qomariyah atau sering disebut dengan istilah kalender luni-solar.

Penanggalan hijriyahalt
Dalam menentukan tanggal atau bulan yang berkaitan dengan ibadah atau hari-hari penting lainnya, umat Islam berpatokan pada sistem penanggalan hijriyah. Bahkan, di banyak negara yang berpenduduk mayoritas Islam, kalender hijriyah digunakan sebagai sistem penanggalan sehari-hari.

Kalender ini dinamakan kalender hijriyah karena pada tahun pertama kalender ini adalah tahun di mana terjadi peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622 Masehi (M). Namun, penentuan kapan dimulainya tahun 1 Hijriyah baru dilakukan enam tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW atau 17 tahun setelah hijrah, yakni semasa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab.

Namun demikian, sistem yang mendasari penghitungan kalender hijriyah telah ada sejak zaman pra-Islam. Sistem ini direvisi pada tahun ke-9 setelah hijrahnya Nabi SAW. Revisi sistem ini dilakukan setelah turunnya wahyu Allah, ayat 36-37 surah Attaubah, yang melarang penambahan hari (interkalasi) pada sistem penanggalan.

Kalender masehialt
Kata 'masehi' (disingkat M) dan sebelum masehi (disingkat SM) biasanya merujuk kepada tarikh atau tahun menurut kalender gregorian. Awal tahun masehi merujuk pada tahun yang dianggap sebagai tahun kelahiran Nabi Isa al-Masih. Karena itu, kalender ini dinamakan masihiyah. Sebaliknya, istilah sebelum masehi (SM) merujuk pada masa sebelum tahun tersebut.

Sebagian besar orang non-Kristen biasanya mempergunakan singkatan M dan SM ini tanpa merujuk kepada konotasi Kristen tersebut. Sementara itu, penggunaan istilah masehi secara internasional dalam bahasa Inggris menggunakan bahasa Latin, yaitu anno domini (AD) yang berarti Tahun Tuhan kita dan sebelum masehi disebut sebagai before Christ (BC) yang bermakna Sebelum Kristus.

Selain itu, dalam bahasa Inggris juga dikenal sebutan common era (CE) yang berarti 'Era Umum' dan before common era (BCE) yang bermakna 'Sebelum Era Umum.' Kedua istilah ini biasanya digunakan ketika ada penulis yang tidak ingin menggunakan nama tahun Kristen.

Sistem penanggalan yang merujuk pada awal tahun Masehi ini mulai diadopsi di Eropa Barat pada abad ke-8. Sistem ini mulai dirancang tahun 525. Namun, pada abad ke-11 hingga ke-14, sistem ini tidak begitu luas digunakan. Tahun 1422, Portugis menjadi negara Eropa terakhir yang menerapkan sistem penanggalan ini. Setelah itu, seluruh negara di dunia mengakui dan menggunakan konvensi ini untuk mempermudah komunikasi.

Meskipun tahun 1 M dianggap sebagai tahun kelahiran Yesus, bukti-bukti historis terlalu sedikit untuk mendukung hal tersebut. Para ahli menanggali kelahiran Yesus secara bermacam-macam, dari 18 SM hingga 7 SM.

Sejarawan tidak mengenal tahun 0-1 M adalah tahun pertama sistem masehi dan tepat setahun sebelumnya adalah tahun 1 SM. Dalam perhitungan sains, khususnya dalam penanggalan tahun astronomis, hal ini menimbulkan masalah karena tahun sebelum masehi dihitung dengan menggunakan angka 0. Maka dari itu, terdapat selisih satu tahun di antara kedua sistem.

Tahun sakaalt
Kalender saka adalah sebuah kalender yang berasal dari India. Kalender ini merupakan sebuah penanggalan syamsiyah qomariyah (candra surya) atau kalender luni solar. Tidak hanya digunakan oleh masyarakat Hindu di India, kalender saka juga masih digunakan oleh masyarakat Hindu di Bali, Indonesia, terutama untuk menentukan hari-hari besar keagamaan mereka.

Sistem penanggalan saka sering juga disebut sebagai penanggalan Saliwahana. Sebutan ini mengacu kepada nama seorang ternama dari India bagian selatan, Saliwahana, yang berhasil mengalahkan kaum Saka. Tetapi, sumber lain menyebutkan bahwa justru kaum Saka di bawah pimpinan Raja Kaniskha I yang memenangkan pertempuran tersebut. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Maret tahun 78 M.

Sejak tahun 78 M itulah ditetapkan adanya tarikh atau perhitungan tahun saka, yang satu tahunnya juga sama-sama memiliki 12 bulan dan bulan pertamanya disebut caitramasa, bersamaan dengan bulan Maret tahun masehi. Sejak itu pula, kehidupan bernegara, bermasyarakat, dan beragama di India ditata ulang. Oleh karena itu, peringatan Tahun Baru Saka bermakna sebagai hari kebangkitan, hari pembaharuan, hari kebersamaan (persatuan dan kesatuan), hari toleransi, dan hari kedamaian sekaligus hari kerukunan nasional.

Mengenai kaum Saka, ada yang menyebut bahwa mereka termasuk suku bangsa Turki atau Tatar. Namun, ada pula yang menyebut bahwa mereka termasuk kaum Arya dari suku Scythia. Sumber lain lagi menyebutkan bahwa mereka sebenarnya orang Yunani (dalam bahasa Sansekerta disebut Yavana) yang berkuasa di Baktria (sekarang Afghanistan) .

Kalender Cinaalt
Seperti halnya kalender saka, kalendar Cina juga menggunakan sistem penanggalan luni solar. Menurut legenda, kalendar Cina berkembang sejak tahun ketiga sebelum masehi. Para ahli menyepakati bahwa kalendar Cina sebagai patokan penanggalan yang paling lama digunakan di dunia. Kalendar ini adalah ciptaan pemerintah Huang Di atau Maharaja Kuning yang memerintah sekitar 2698-2599 SM.

Bukti arkeologi terawal mengenai kalendar Cina ditemukan pada selembar naskah kuno yang diyakini berasal dari tahun kedua sebelum masehi atau pada masa Dinasti Shang berkuasa. Pada masanya, dipaparkan tahun luni solar yang lazimnya 12 bulan, namun kadang-kadang ada pula bulan ke-13, bahkan bulan ke-14. Penambahan bilangan bulan dalam tahun kalendar memastikan peristiwa tahun baru tetap dilangsungkan dalam satu musim saja, sebagaimana kalender masehi meletakkan satu hari tambahan pada bulan Februari setiap empat tahun.

Di negara Cina sekarang, kalendar Cina hanya digunakan untuk menandai perayaan orang Cina, seperti Tahun Baru Cina, perayaan Duan Wu, dan Perayaan Kuih Bulan. Begitu juga dalam bidang astrologi, seperti memilih tahun yang sesuai untuk melangsungkan perkawinan atau meresmikan pembukaan bangunan baru. Sementara itu, untuk kegiatan harian, masyarakat Cina mengacu kepada hitungan kalender masehi.(rpb) SuaraMedia.Com
amiwelder:
__._,_.___

Wednesday, December 9, 2009

Zaman Keemasan Islam Andalusia‏

Frase Dalam Bahasa Arab Kerap Ditemui Pada Ukiran Dinding Bangunan Bersejarah Peninggalan Islam di Andalusia
Frase Dalam Bahasa Arab Kerap Ditemui Pada Ukiran Dinding Bangunan Bersejarah Peninggalan Islam di Andalusia
(SuaraMedia) - Tidak ada pemenang selain Allah . Demikian frase dalam bahasa Arab yang kerap ditemui pada ukiran dinding bangunan bersejarah peninggalan Islam di Andalusia atau Spanyol.

Setidaknya, lebih dari 100 kali tulisan tersebut tercantum sebagai hiasan dinding berbagai bangunan yang ada. Ini bukan tanpa sebab, mengingat frase tadi adalah motto dari Dinasti Nasrid yang pernah berkuasa di Granada, Andalusia, sejak tahun 1238 hingga pengambilalihan oleh Spanyol pada 1492.
Selain itu, tulisan kebahagiaan abadi , juga turut mendominasi corak ukiran dinding. Ini adalah semacam ungkapan harapan kepada Allah SWT bagi segenap penguasa Granada ketika itu.
Lainnya yakni pesan atau kalimat bijak mengenai esensi kehidupan dan hubungan dengan Sang Pencipta. Semisal, Berhematlah dalam berkata-kala maka engkau akan menemukan kedamaian atau bersukacitalah dalam kesenangan karena Allah akan menolongmu.
Demikian sekelumit gambaran keindahan kata, ukiran dan kaligrafi yang terdapat pada bangunan-bangunan Islam di Spanyol. Sayangnya, sebagian besar belum sepenuhnya didalami maknanya, lantaran masih sedikit dilakukan kajian.
Memang, hal tersebutlah yang selama berabad-abad lamanya, membuat para ilmuwan dan peneliti dari seluruh dunia takjub. Kedalaman makna di balik ukiran-ukiran (kaligrafi) di dinding dan di langit-langit Istana Alhambra, benar-benar memesona.
Oleh karenanya, sejumlah peneliti pun berinisiatif untuk membuat katalog sekaligus berusaha menguraikan maksud dari ukiran-ukiran tadi. Dari penjelasan seorang penyidik kajian Arab di Dewan Peneliti Ilmiah di Spanyol, Juan Castilla, amatlah janggal bila di abad 21 ini, belum ada katalog yang komprehensif yang menguak makna di balik ukiran maupun kaligrafi Islam itu.
Para peneliti lantas memakai berbagai perangkat teknologi canggih, antara lain kamera digital serta pemindai laser tiga dimensi. Dengan teknologi ini, memungkinkan para peneliti membaca ukiran itu tanpa perlu menyentuhnya.
Upaya itu tak lepas dari kendala. Banyak kaligrafi di Istana Alhambra yang terdapat di pilar tiang penyangga sehingga menyulitkan untuk dapat dibaca dari bawah. Selain itu, banyak tulisan yang tak sulit dibaca karena para pengukir masa lalu memakai huruf kursif.
Diharapkan, paling tidak katalog nanti dapat merangkum sekitar 65 persen dari ukiran dan tulisan kaligrafi ini. Kemudian, para peneliti akan mencoba menerjemahkannya ke dalam bahasa Spanyol pada akhir tahun ini, untuk kemudian dialihbahasakan ke bahasa Prancis dan Inggris.
Proyek tersebut direncanakan rampung tahun 2011, setelah mulai dikerjakan sejak tahun 2002 lalu. Selama kurun waktu itu, sudah sebanyak 3.116 dari 10 ribu tulisan dan ukiran kaligrafi yang diketahui maknanya.
Istana Alhambra dibangun pada abad ke-13 dan berada di wilayah selatan Granada. Istana tersebut merupakan 'permata bagi Eropa' dari arsitektur Islam. Kini, istana tersebut dijadikan pusat pariwisata yang paling menyedot perhatian dengan jumlah pengunjung 3,1 juta per tahun.
Sejak tahun 1236 M, kekuasaan Islam di Spanyol kian melemah. Wilayah Muslim yang semula meliputi hampir seluruh semenanjung Iberia, hanya tersisa wilayah Granada yang dipimpin Muhammad ibn Alhamar.
Pada tahun 1497 Kerajaan Islam Granada jatuh ke tangan tentara gabungan kerajaan Aragon dan Castilla (Isabella-Ferdinand ). Mereka lantas mengusir orang-orang Islam untuk keluar dari tanah Spanyol. (rpb) SuaraMedia.Com
Berita Lainny

Tuesday, December 8, 2009

Legenda Pendekar Islam Negeri Cina


Pernahkah anda mendengar nama Klenteng Sam Poo Kong atau Klenteng Gedung Batu di Simongan Semarang? Konon, klenteng tersebut dibangun untuk tempat beristirahat sekaligus sholat komandan armada laut Dinasty Ming dari Cina pada abad 15/16 lalu. (SuaraMedia News)
Pernahkah anda mendengar nama Klenteng Sam Poo Kong atau Klenteng Gedung Batu di Simongan Semarang? Konon, klenteng tersebut dibangun untuk tempat beristirahat sekaligus sholat komandan armada laut Dinasty Ming dari Cina pada abad 15/16 lalu. (SuaraMedia News)
Untuk tempat sholat..!? Ya, Komandan Armada yang dikenal dengan nama Cheng Ho atau Zheng He ini memang beragama Islam, dimana dikisahkan ayahnya pernah naik haji dan ia sendiri disunat sejak kecil. Namun perjalanan armada Cheng Ho bukanlah untuk menyebar-nyebarkan agama Islam di tempat yang disinggahinya, walau ia muslim. Lebih layak kalau perjalanan armadanya adalah untuk riset, menagih upeti dari Majapahit dan mengamankan Sriwijaya dari serangan bajak laut yang juga orang-orang Cina. Kota Palembang sekarang yang banyak dihuni orang-orang berwajah Cina tapi beragama Islam mungkin bisa dijadikan kunci untuk menelisik lebih jauh tentang peran Cina muslim dalam islamisasi di Indonesia. Juga tentang keberadaan preman-preman Palembang yang kondang mungkin bisa dihubungkan dengan adanya perkampungan yang dihuni para bajak laut di masa lalu. Bagaimana dengan mpek-mpek? di daerah Cina selatan dikabarkan ada makanan sejenis itu yang mungkin merupakan cikal bakal mpek mpek Palembang.


Siapakah Cheng Ho sebenarnya?

Kisah pelayaran Cheng Ho tidak hanya menorehkan jejak sejarah yang mengagumkan di setiap negara yang dilaluinya (laporan khusus Time di bawah tajuk The Asian Voyage: In the Wake of the Admiral, ed. August 20-27, 2001) tetapi juga telah mengilhami ratusan karya ilmiah baik fiksi maupun non-fiksi serta penemuan berbagai teknologi kelautan-perkapalan di Eropa khususnya pasca penjelajahan sang maestro.


Legenda Sinbad Sang Pelaut yang begitu populer di Timur Tengah juga terinspirasi oleh kisah legendaris Cheng Ho. Di Indonesia, terutama Jawa, juga terdapat jejak historis yang tak terbantahkan sebagai pengaruh misi muhibah Cheng Ho. Selain itu, juga cukup banyak berbagai karya sastra yang bertutur tentang Cheng Ho/Sam Poo Kong seperti yang ditulis Remy Silado (saya sendiri belum membaca, disarikan dari resensi seorang teman).

Cerita lisan Dampu Awang yang begitu kuat di masyarakat pesisir utara Jawa juga disinyalir merupakan pengaruh dari legenda itu. Jadi siapakah Cheng Ho sehingga pengaruhnya begitu besar?

Cheng Ho sebetulnya adalah nama yang diberikan oleh Cheng Tzu atau Chu Teh yang lebih populer dengan sebutan Yung Lo, kaisar ke-3 Dinasti Ming yang berkuasa dari tahun 1403 sampai 1424. Nama asalnya adalah Ma Ho, lahir 1370 M dari keluarga miskin etnis Hui di Yunan. Hui adalah komunitas muslim Tionghoa campuran Mongol -Turki. Karena jasanya dalam turut mengkudeta Kien Wen, akhirnya Ma Ho diberi jabatan penting oleh Kaisar Yung Lo sebagai pemegang komando atas ribuan abdi dalem di Dinas Rumah Tangga Istana yang melayani kaisar sebagai polisi rahasia (Seagrave, 1999).

Ini merupakan jabatan sangat berpengaruh, sebagai bukti kepercayaan sang kaisar pada Cheng Ho, ia diberi mandat untuk memimpin ekspedisi laut sebagai Commander in Chief lewat sebuah dekrit kerajaan (Imperial Decree). Sementara wakil dan sekretaris masing-masing dipegang oleh Laksamana Muda Heo Shien (Husain) dan Ma Huan serta Fei Shin (Faisal) sebagai juru bahasa Arab, selain Ma Huan yang memang mahir berbahasa Arab juga Hassan, seorang imam di bekas ibukota Sin An (Changan). Dalam menjalankan politik diplomasi laut ini, Kaisar Yung Lo mengeluarkan armada berjumlah 62 kapal besar dengan 225 junk (kapal berukuran lebih kecil) dan 27.550 orang perwira dan prajurit termasuk di dalamnya ahli astronomi, politikus, pembuat peta, ahli bahasa, ahli geografi, para tabib, juru tulis dan intelektual agama. Kisah itu kemudian ditulis antara lain di Ming Shi (Sejarah Dinasti Ming).

Sejak 1405, awal mula Cheng Ho mengadakan pelayaran sampai wafatnya, 1433 ia telah mengadakan pelayaran selama 7 kali dan mengunjungi lebih dari 37 negara: dari berbagai pelabuhan di Nusantara dan Samudra Hindia sampai ke Sri Langka, Quilon (Selandia Baru), Kocin, Kalikut, Ormuz, Jeddah, Magadisco dan Malindi. Dari Campa hingga India, dan dari sepanjang Teluk Persia dan Laut Merah hingga pesisir Kenya.

Dilihat dari kuantitas dan waktu, ekspedisi Cheng Ho jauh melampaui para pengembara mana pun di Eropa: Chistopher Columbus, Vasco da Gama, Ferdinand Magellan, Francis Dranke dan lain-lain. Karena prestasinya yang luar biasa menjadikan Cheng Ho semakin dimitoskan dan diberi julukan kaisar sebagai Ma San Bao ("Ma" si Tiga Permata). Julukan sebagai ungkapan rasa sayang dalam adat Tionghoa. Setelah Cheng Ho meninggal dunia karena sakit pada tahun 1435, di usia 65 tahun, ia dimakamkan di Niushou (Bukit Kepala Banteng), Nanjing, Cina Daratan.

Dalam komunitas Tionghoa dewasa ini, terlepas dia seorang muslim atau tidak, tokoh Cheng Ho menjadi semacam tokoh mitologi yang diagungkan. Ia tidak hanya dipuja dan dikagumi sebagai seorang Bahariwan Agung tetapi juga disembah sebagai dewa di berbagai kelenteng dengan sebutan Sam Poo Kong terutama oleh penganut agama leluhur Tionghoa. Di kemudian hari,sang maestro ini dikenal dengan berbagai sebutan: Sam Poo Tay Djin, Sam Poo Tay Kam, Sam Poo Toa Lang dan lain-lain.

Ini adalah sebuah anakronisme historis. Sebab Cheng Ho yang manusia biasa dan muslim itu kemudian diberhalakan sebagai dewa yang disembah di kelenteng. Lebih menyedihkan lagi, sejarah Cheng Ho selalu ditulis secara hagiografis yaitu berlebih-lebihan yang cenderung melampaui manusia lumrah bukan menggunakan pendekatan sejarah kritis. Akibatnya, sosok Cheng Ho tampil sebagai manusia yang nyaris sempurna yang hanya pantas ada di alam mitos. Padahal Cheng Ho adalah seorang Muslim Tionghoa lumrah sebagaimana lainnya yang tentu memiliki berbagai keterbatasan. Jasa terbesar dia barangkali adalah telah menjalin persahabatan antara Tiongkok dengan negara atau kerajaan lain di dunia ini yang diperkukuh dengan pertukaran kebudayaan yang masih tampak hingga dewasa ini, termasuk di Jawa.

Sino-Javanese Muslim Cultures

Memang telah terjadi apa yang disebut "Sino-Javanese Muslim Cultures" yang membentang dari Banten, Jakarta, Cirebon, Semarang, Demak, Jepara, Lasem sampai Gresik dan Surabaya sebagai akibat dari perjumpaan Cheng Ho dan Tionghoa Islam lain dengan Jawa. Bentuk Sino-Javanese Muslim Cultures itu tidak hanya tampak dalam berbagai bangunan peribadatan Islam misalnya masjid, yang menunjukkan adanya unsur Jawa, Islam, Tionghoa tetapi juga berbagai seni/sastra, batik, ukir dan unsur kebudayaan lain. Sayang, fenomena Sino-Javanese Muslim Cultures itu tidak terpelihara dengan baik bahkan oleh masyarakat Tionghoa muslim sendiri.

Banyak dari mereka yang tidak mengerti mengenai asal-usul/genealogi mereka. Para sejarawan Tanah Air juga sangat langka yang merawat atau memelihara kesejarahan akulturasi Tionghoa, Islam, Jawa ini. Mereka umumnya terkena penyakit intellectual laziesness atau kemalasan intelektual untuk melakukan penggalian sejarah yang memang minim dokumentasi tertulis ini.

Perpustakaan Nasional juga tidak menyimpan dokumen-dokumen berharga kaitannya dengan kesejarahan Jawa terutama Jawa prakolonial sebuah kurun di mana perjumpaan Tionghoa, Islam, Jawa mengalami intensitas tinggi. Oleh karena itu sangatlah wajar apabila setiap kali diadakan pembicaraan mengenai asal-usul Islam di Jawa, para sejarawan selalu mengulang-ulang teori klasik, sekaligus klise, yakni bahwa Islam yang tersebar di Jawa ini melalui para pedagang dari India Belakang (Gujarat) dan Timur Tengah terutama Persia. Padahal jika kita mau jujur, bangsa Tionghoa-lah sebetulnya yang memiliki peran cukup signifikan dalam proses Islamisasi di Jawa khususnya.alt

Argumentasi ini tidak hanya didasarkan pada laporan sejarah yang dilakukan Ma Huan (seorang muslim Tionghoa yang juga sekretaris Cheng Ho) yang pada abad ke-15 mengunjungi pesisir Jawa tetapi juga oleh beberapa pengembara asing lain seperti de Baros (Portugis), Ibnu Battuta (Maghrib), dan Loedwicks (Belanda). Teks-teks babad lokal juga menceritakan adanya orang-orang Tionghoa muslim yang mempunyai pengaruh kuat dalam proses penyebaran Islam di Jawa.

Fakta yang tak terbantahkan tentu saja adalah apa yang saya sebut Sino-Javanese Muslim Cultures tadi. Ukiran padas di masjid kuno Mantingan, Jepara , menara masjid di pecinan Banten (Jawa Barat), konstruksi pintu makam Sunan Giri di Gresik (Jawa Timur), arsitektur Keraton dan Taman Sunyaragi di Cirebon (Jawa Barat), konstruksi Masjid Demak (Jawa Tengah) terutama soko tatal penyangga masjid beserta lambang kura-kuranya, konstruksi Masjid Sekayu di Semarang dan sebagainya semuanya menunjukkan adanya keterpengaruhan budaya Tionghoa yang sangat kuat.

Peninggalan sejarah yang tak terelakkan dari masyarakat Tionghoa muslim adalah dua masjid kuno yang berdiri megah di Jakarta, yakni Masjid Kali Angke yang dihubungkan dengan Gouw Tjay dan Masjid Kebun Jeruk yang didirikan oleh Tamien Dosol Seeng dan Nyonya Cai. Bukti-bukti kesejarahan ini belum termasuk kelenteng kontroversial yang diduga kuat oleh beberapa sejarawan sebagai bekas masjid yang dibangun masyarakat Tionghoa muslim pada abad ke-15/16. Kelenteng-kelenteng dimaksud adalah Kelenteng Ancol (Jakarta), Kelenteng Talang (Cirebon), Klenteng Gedung Batu (Simongan, Semarang), Kelenteng Sampokong (Tuban) dan Kelenteng Mbah Ratu (Surabaya). Inilah sekelumit dari fakta Sino-Javanese Muslim Cultures di atas.

Fakta Sino-Javanese Muslim Cultures di atas sekaligus menunjukkan bahwa komunitas Tionghoa di negeri ini pernah hidup berdampingan secara damai dengan etnis lain, Jawa, Betawi. Mereka tidak hanya saling tukar-menukar kebudayaan tetapi lebih dari itu juga mengadakan perkawinan silang dengan perempuan setempat karena kita tahu para pengembara Tionghoa pada waktu itu semuanya laki-laki. Kata nyonya yang begitu melekat dalam masyarakat kita pada awalnya berasal dari akar kata Hokian "nio" atau "niowa" yang berarti perempuan lokal yang dinikahi laki-laki Tionghoa.

Dari sinilah maka tidak mengherankan apabila banyak masyarakat Indonesia yang sebetulnya masih memiliki darah Tionghoa. Hal ini misalnya ditunjukkan dengan adanya tembong biru pada pantat atau bagian bawah lain dari bayi yang baru lahir. Tembong biru itu mengisyaratkan bahwa si bayi mempunyai darah Mongoloid atau darah Tionghoa (Mongoolse Vlek).

Fakta harmoni Tionghoa-Jawa ini kemudian dirusak oleh Belanda dengan menerapkan politik segregasi berupa passenstelsel, keharusan bagi setiap orang Tionghoa untuk mempunyai surat jalan khusus apabila hendak bepergian ke luar distrik tempat mereka tinggal, dan wijkenstelsel, pelarangan bagi Tionghoa untuk tinggal di tengah kota dan mengharuskan mereka membangun satu ghetto yang kemudian dikenal dengan Pecinan sebagai tempat tinggal. Sejak itu Tionghoa menjadi terisolasi dari publik ramai, dan menjadi eksklusif. Fakta ini diperparah dengan adanya penulisan sejarah Jawa yang Nerlando-centris sehingga semakin mengucilkan peran dan eksistensi masyarakat Tionghoa terlebih Tionghoa muslim di Indonesia. Hal inilah yang sepatutnya kita luruskan bersama.(myn) SuaraMedia.Com

__._,_.___

Monday, December 7, 2009

Ahli Farmasi Di Peradaban Islam‏

 
Hampir di setiap rumah sakit besar di kota-kota Islam dilengkapi dengan apotek atau instalasi farmakologi. Apotek-apotek itu dikelola oleh apoteker yang menguasai ilmu peracikan obat. Kaum Muslimin menyumbang begitu banyak hal terhadap perkembangan apotek atau obat. (SuaraMedia News)
Hampir di setiap rumah sakit besar di kota-kota Islam dilengkapi dengan apotek atau instalasi farmakologi. Apotek-apotek itu dikelola oleh apoteker yang menguasai ilmu peracikan obat. Kaum Muslimin menyumbang begitu banyak hal terhadap perkembangan apotek atau obat. Peradaban Islam dikenal sebagai perintis dalam bidang farmasi. Para ilmuwan Muslim di era kejayaan Islam sudah berhasil menguasai riset ilimiah mengenai komposisi, dosis, penggunaan, dan efek dari obat-obatan sederhana dan campuran.  Selain menguasai bidang farmasi, masyarakat Muslim pun tercatat sebagai peradaban pertama yang memiliki apotek atau toko obat.

Sharif Kaf al-Ghazal dalam tulisannya bertajuk The valuable contributions of Al-Razi (Rhazes) in the history of pharmacy during the Middle Ages, mengungkapkan, apotek pertama di dunia berdiri di kota Baghdad pada tahun 754 M. Saat itu, Baghdad sudah menjadi ibukota Kekhalifahan Abbasiyah. ''Apotek pertama di Baghdad didirikan oleh para apoteker Muslim,'' ungkap al-Ghazal.

Jauh sebelum peradaban Barat mengenal apotek, masyarakat Islam lebih dulu menguasainya.  Sejarah mencatat, apoteker pertama di Eropa baru muncul pada akhir abad ke-14, bernama Geoffrey Chaucer (1342-1400). Ia dikenal sebagai apoteker asal Inggris. Apotek mulai menyebar di Eropa setelah  pada abad ke-15 hingga ke-19 M, praktisi apoteker mulai berkembang di benua itu.

''Umat Islam-lah yang mendirikan warung pengobatan pertama,'' papar Howard R Turner dalam bukunya bertajuk  Science in Medievel Islam .  Philip K Hitti dalam bukunya yang terkenal bertajuk  History of Arab, juga mengakui bahawa peradaban Islamlah yang pertama kali mendirikan apotek.

''Selain itu, peradaban Islam juga merupakan pendiri sekolah farmasi pertama,'' ungkap K Hitti. Ia juga membuktikan bahwa umat Muslim di era kekhalifahan sebagai pencipta pharmacopoeia yang pertama. Perkembangan ilmu farmasi yang begitu cepat, membuat apotek atau toko-toko obat tumbuh menjamur di kota-kota Islam.

Hampir di setiap rumah sakit besar di kota-kota Islam dilengkapi dengan apotek atau instalasi farmakologi. Apotek-apotek itu dikelola oleh apoteker yang menguasai ilmu peracikan obat. ''Kaum Muslimin menyumbang begitu banyak hal terhadap perkembangan apotek atau obat,'' ungkap Howard R Turner dalam bukunya bertajuk  Science in Medievel Islam .

Di era kejayaan Islam, toko-toko obat bermunculan bak jamur di musim hujan. Toko obat yang banyak jumlahnya tak cuma hadir di kota Baghdad - kota metropolis dunia di era kejayaan Abbasiyah - namun juga di kota-kota Islam lainnya. Para ahli farmasi ketika itu sudah mulai mendirikan apotek sendiri. Mereka menggunakan keahlian yang dimilikinya untuk meracik, menyimpan, serta menjaga aneka obat-obatan.

Pemerintah Muslim pun turun mendukung pembangunan di bidang farmasi. Rumah sakit milik pemerintah yang ketika itu memberikan perawatan kesehatan secara cuma-cuma bagi rakyatnya juga mendirikan laboratorium untuk meracik dan memproduksi aneka obat-obatan dalam skala besar.Keamanan obat-obatan yang dijual di apotek swasta dan pemerintah diawasi secara ketat. Secara periodik, pemerintah melalui pejabat dari Al-Muhtasib - semacam badan pengawas obat-obatan - mengawasi dan memeriksa seluruh toko obat dan apotek. Para pengawas dari Al-Muhtasib secara teliti mengukur akurasi berat dan ukuran kemurnian dari obat yang digunakan.

Pengawasan yang amat ketat itu dilakukan untuk mencegah penggunaan bahan-bahan yang berbahaya dalam obat dan sirup. Semua itu dilakukan semata-mata untuk melindungi masyarakat dari bahaya obat-obatan yang tak sesuai dengan aturan. Pengawasan obat-obatan yang dilakukan secara ketat dan teliti yang telah diterapkan di era kekhalifahan Islam.

Perkembangan  ilmu botani dan kimia telah mendorong umat Muslim untuk mengembangkan farmasi.  Pada masa itu, ilmuwan Muslim seperti  Muhammad ibnu Zakariya al-Razi (865-915 M) alias Razes turut mengembangkan pengobatan dengan menggunakan obat-obatan.  Selain itu, dokter dan ahli farmasi Muslim lainnya  Abu al-Qasim al-Zahrawi alias Abulcasis (936-1013 M) juga tercatat sebagai saintis perintis dalam bidang distiliasi dan sublimasi.

Tak cuma itu, Sabur ibnu Sahl (wafat 869 M), juga tercatat sebagai dokter pertama yang mencetuskan  pharmacopoedia. Ia telah menjelaskan beragam jenis obat-obatan  untuk mengobati penyakit. Saintis Muslim lainnya yang turut menopang tumbuhnya aoptek di era Islam adalah  al-Biruni (973-1050 M). Sang ilmuwan legendaris Islam itu telah menulis buku farmakologi yang sangat berharga bertajuk  Kitab al-Saydalah ( Buku tentang Obat-obatan) .

Dalam kitabnya itu, al-Biruni menjelaskan secara detail pengetahuan mengenai peralatan untuk pembuatan oba-obatan, peran farmasi, fungsi serta tugas apoteker. Ia juga menjelaskan tentang apotek. Ilmuwan Muslim lainnya, Ibnu Sina  alias Avicenna juga menulis tak kurang dari 700 persiapan pembuatan obat, peralatannya, kegunaan dan khasiat obat -obatan tersebut.  Kontribusi Ibnu Sina dalam bidang farmasi itu dituliskannya dalam bukunya yang sangat monumental  Canon of Medicine.

Ilmuwan Muslim lainnya yang turut menopang berdiri serta berkembangnya apotek di dunia Islam adalah al-Maridini dan Ibnu al-Wafid (1008-1074). Kedua karya ilmuwan Muslim itu  telah dicetak dalam bahasa Latin lebih dari 50 kali. Kitab yang ditulis keduanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin berjudul   De Medicinis universalibus et particularibus dan   Medicamentis simplicibus.

”Kaum Muslimin telah menyumbang banyak hal dalam bidang farmasi dan pengaruhnya sangat luar biasa terhadap Barat,” papar Turner. Menurut Turner, para sarjana Muslim di zaman kejayaan telah memperkenalkan sederet obat herbal yang terbukti berkhasiat untuk kesehatan, seperti, adas manis, kayu manis, cengkeh, kamper, sulfur, serta merkuri sebagai unsur atau bahan racikan obat-obatan.

Menurut K Hitti, kemajuan peradaban Islam dalam farmasi dan apotek ditopang oleh banyaknya buku dalam bidang farmakologi yang ditulis ilmuwan Muslim. K Hitti mencatat, buku farmakologi pertama di dunia Islam ditulis oleh  Jabir bin Hayyan.  Selain itu, ada pula karya  al-Razi, Ibnu Sina, Tabari dan d Majusi. ''al-Razi dan Ibnu Sina adalah dua dokter yang paling terkemuka di zamannya,'' ujar K Hitti.

Sejak dulu, apotek yang dikelola apoteker merupakan bagian yang tak terpisahkan dari  institusi rumah sakit. Hal itu sama halnya dengan  farmasi dan farmakologi yang juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ilmu kedokteran. Dunia farmasi profesional secara resmi terpisah dari ilmu kedokteran di era kekuasaan Kekhalifahan Abbasiyah.

Terpisahnya farmasi dari kedokteran pada abad ke-8 M, membuat farmakolog menjadi profesi yang independen dan farmakologi sebagai ilmu yang berdiri sendiri. Menurut Howard R Turner, praktisi seperti herbalis, kolektor, penjual tumbuhan, rempah-rempah untuk obat-obatan, penjual dan pembuat sirup, kosmetik, air aromatik, serta apoteker merupakan profesi yang menopang geliat farmasi di dunia Islam. heri ruslan


Ilmuwan Muslim Penopang Apotek

* Abu Ja’far Al-Ghafiqi (wafat 1165 M)
Ilmuwan Muslim yang satu ini juga turut memberi kontribusi dalam pengembangan farmakologi dan farmasi. Sumbangan Al-Ghafiqi untuk memajukan ilmu tentang komposisi, dosis, meracik dan menyimpan obat-obatan dituliskannya dalam kitab Al-Jami’ Al-Adwiyyah Al-Mufradah. Risalah itu memaparkan tentang pendekatan dalam metodelogi, eksperimen, serta observasi dalam farmakologi dan farmasi.

* Sabur Ibnu Sahl (wafat 869 M)
Ibnu Sahal adalah dokter pertama yang mempelopori pharmacopoeia. Kontribusinya dalam bidang farmakologi dan farmasi juga terbilang mata besar. Dia menjelaskan beragam jenis obat-obatan. Sumbangannya untuk pengembangan farmakologi dan farmasi dituangkannya dalam kitab Al-Aqrabadhin.

* Yuhanna Ibnu Masawayh (777 M - 857 M)
Orang Barat menyebutnya Mesue. Ibnu Masawayh merupakan anak seorang apoteker. Kontribusinya juga terbilang penting dalam pengembangan farmasi dan farmakologi. Dalam kitab yang ditulisnya, Ibnu Masawayh membuat daftar sekitar 30 macam aromatik.Salah satu karya Ibnu Masawayh yang terkenal adalah kitab Al-Mushajjar Al-Kabir. Kitab ini merupakan semacam ensiklopedia yang berisi daftar penyakit berikut pengobatannya melalui obat-obatan serta diet.

* Abu Hasan ‘Ali bin Sahl Rabban at- Tabari
At-Tabari lahir pada tahun 808 M. Pada usia 30 tahun, dia dipanggil oleh Khalifah Al-Mu’tasim ke Samarra untuk menjadi dokter istana. Salah satu sumbangan At-Tabari dalam bidang farmakologi adalah dengan menulis sejumlah kitab. Salah satunya yang terkenal adalah Paradise of Wisdom. Dalam kitab ini dibahas mengenai pengobatan menggunakan binatang dan organ-organ burung. Dia juga memperkenalkan sejumlah obat serta cara pembuatannya. (rpb) SuaraMedia.Com
__._,_.___
 

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails